Sabtu, 15 Februari 2014

Kota Kabut






Lihatlah alamku !!!
Hijau terhampar luas
Sepanjang kau melihat semuanya serba hijau
Tak jenuh bibirmu memuji alamku
Kalimantan namanya,
            Satwa bebas berlari
            Udara segar tersaji
            Bahkan, alamku di sebut jantung dunia
            Jika hutanku lenyap,
            Makhluk hidup susah bernafas
Semua orang ingin mengolah alamku
Semuanya ingin menjadi kaya
Pohonku ditebang bebas tuk perkebunan
Agar cepat, lahan dibakar
Akhirnya hamparan hijau lenyap
            Si jago merah menjilat hutanku
            Ia menari-nari di hutanku
            Asap dan kabut menyelimuti kota
            Kota pun berubah
            Kabut di mana-mana
Kotaku tak lagi segar
Andai saja, owh andai saja
Mereka lebih ramah
Alamku pasti masih hijau
Bumiku tak merintih seperti saat ini

Rabu, 12 Februari 2014

HMI Cabang Ciputat Mengenang 67 Tahun Milad HMI

(repost) tulisan saya di portal tabloid ruang
 
Enampuluh tujuh tahun yang lalu, bertempat di Yogyakarta lahirlah sebuah organisasi pergerakan mahasiswa Islam tertua bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi yang diprakarsai oleh Lapran Pane dan keempat belas founding fathers ini, berkembang pesat dan menjamur ke seantero nusantara. Di umur yang sangat matang tersebut, HMI terbukti mampu memberikan sumbangsih besar kepada bangsa dan Negara Indonesia.
Untuk bersyukur dan mengenang perjuangan founding fathers HMI. HMI Cabang Ciputat mengadakan tasyakuran Milad Ke-67 HMI yang dilaksanakan di Aula Insan Cita (AIC), Ciputat, Rabu (5/2). Puluhan kader beserta pengurus komisariat dan pengurus cabang HMI Ciputat hadir melangsungkan tasyakuran tersebut. Acara dimulai jam 8.30 malam.
Noval, ketua pelaksanaan tasyakuran dalam sambutannya menuturkan acara ini sebagai bentuk rasa syukur dan panjataan doa untuk HMI ke depannya. “Kita bersyukur HMI telah berusia 67 tahun, HMI juga telah berikan kita ruang untuk eksistensi kadernya. Selain itu, tujuan acara ini sebagai doa kita agar kelak HMI lebih baik dan semakin memberikan kontribusi demi kemajuan bangsa ini,” ucap Ketua Bidang Pemberdayaan Umat tersebut.
Selain sebagai tasyakuran, pengurus Cabang juga memaparkan agenda kedepan untuk merekat silaturrahmi antar Komisariat. “Kita cabang, akan merancang sebuah agenda untuk menguatkan kedekatan emosional antar Komisariat melalui pekan olahraga dan seni,” papar Asep Sholahuddin, Ketua Umum HMI cabang Ciputat.
Menanggapi acara tasyakuran ini, Asep menegaskan bahwa faktor alam menjadi kendala sehingga acara ini terkesan sederhana.” Saya beserta pengurus mohon maaf untuk kesederhanaan tasyakuran. Kemarin, kita fokus mendirikan posko-posko banjir di daerah yang terkena musibah, jadi konsentrasi kita terbagi. Meskipun demikian, acara yang baru dibicarakan malam ini meskipun sederhana namun saya harapkan penuh khidmat,” tegasnya.
Setelah sambutan acara dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin sebagai doa untuk HMI dan kader-kadernya ke depan. Pemotongan nasi tumpeng dan kue cake melengkapi rentetan acara tasyakuran milad ke 67 HMI ini.
Dalam acara ini, perwakilan tiap Komisariat memberikan harapan-harapan untuk HMI Cabang Ciputat ke depannya. Zubair Qomaruddin, selaku perwakilan pengurus Komisairat Pamulang (KOMIPAM) menuturkan harapannya agar silaturrahmi lebih terjamin di HMI Cabang Ciputat. ”Saya berharap terjalin silaturrahmi antara Komisariat lebih digencarkan lagi, sehingga terjalin ukhuwah yang kuat antara Komisariat di Ciputat. Selama ini, saya belum melihat ada agenda Cabang untuk merekatkan ukhuwah kita,” tuturnya.
Meskipun meriah, Sopyan Hadi Permana menyayangkan tidak adanya refleksi perjuangan HMI. “Yah, biar sederhana acara ini cukup meriah dan ramai, padahal dalam kondisi liburan. Tapi, saya berharap jika bisa ada refleksi perjuangan HMI Cabang dari masa ke masa,” kata Ketua Umum Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini.(Rendy)

Jumat, 10 Januari 2014

Semuanya Tergantung Niat


sumber foto : facebook.com


Man  Jadda Wajada, peribahasa Arab yang artinya “siapa yang bersungguh-sunguh dia akan berhasil” melekat erat pada mahasiswi ini. Setelah mencoba selama tujuh kali, akhirnya percobaan yang ketujuh menjadi langkah pertama baginya di event internasional yaitu Asia-Pacific Model United Nations Conference (AMUNC) 2013 di New Zealand.
Begitulah kiranya peribahasa yang menggambarkan tekad kuat mahasiswi ini. Sosok tersebut bernama Naeli Fitria, kelahiran Cirebon, 24 Maret 1993, tengah duduk di semester lima Hubungan Internasional UIN Jakarta. Dahulu, menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Tonjong, Brebes, lalu melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bogor, Jawa Barat. Ketertarikannya kepada politik Islam dan kajian Timur Tengah menjadi alasan kuat ia memilih melanjutkan studi Hubungan Internasional di UIN Jakarta.

FISIP DAYS Sukses Gelar Lomba Newscasting



sumber  foto : www.arenakarier.com

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berhasil menggelar lomba presenter berita televisi antara mahasiswa dan siswa SMA se-Jabodetabek pada hari Kamis, 17 Oktober 2013. Lomba ini diikuti oleh 35 peserta yang berlangsung di Aula lantai 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara dimulai sejak jam 9 pagi hingga 3 sore.

Memasuki umurnya yang genap empat tahun, FISIP mengadakan serangkaian lomba dalam memeriahkan ulang tahunnya tersebut. Lomba tersebut dirangkai dalam sebuah acara besar yakni FISIP DAYS 2013 yang melibatkan segenap civitas akademika FISIP UIN Jakarta.

Zahra Shalimah, Selaku koordinator lomba menuturkan bahwa lomba ini sudah jauh dipersiapkan  sejak lama. “Kita sudah dibentuk sejak satu bulan lalu, walaupun banyak revisi dan perubahan di sana-sini, tapi Al-hamdulillah akhirnya tercapai dan terealisasikan  juga lomba ini,” tuturnya.

Selasa, 26 November 2013

Rindu Seorang Hamba



sumber foto : shareqolbu.blogspot.com 

Ada sebuah rangkaian kata-kata yang semenjak pertama ku mendengarkannya, tak pernah terbesit di lubuk hatiku kecuali satu kata “KAGUM”. Aku tak mengerti bagaimana kata-kata itu dibuat, namun aku sangat mencintai setiap tikungan dan lekuk kata-kata tersebut. Ku mendengarnya pertama kali saat melihat sebuah latihan teater ARMADA di Darussalam. Berikut isi rangkaian kata-kata tersebut :

Bismillah alam semesta
Bismillah darah manusia
Bismillah jiwa rindu
      Bismillah aku mencarimu
      Bismillah sakitku
      Bismillah Allah janjiku

Islam dan Perkembangan Zaman


KULIAH UMUM OLEH DIN SYAMSUDDIN 
 


Penjajahan berpengaruh kepada negara yang terjajah baik dari segi sosial maupun budaya. Seperti, negara persemakmuran Inggris seperti Malaysia yang mayoritas penduduknya pandai berbahasa Inggris, lalu masih digunakan bahasa Prancis di sebagian negara Afrika bekas jajahan Prancis. Hal ini menunjukan kuatnya pengaruh penjajahan, bahkan ada dampak sistemik yaitu dampak bawaan penjajahan ke depan yang muncul setelah kemerdekaan negara tersebut.
Sebelum mencapai kemerdekaan, tentunya ada perjuangan rakyat melawan penjajah. Dari sini lahirlah nasionalisme sebagai konsekuensi perjuangan, akan tetapi nasionalisme dipandang negative sebagian golongan karena mengandung perpecahan. Islam sebagai keyakinan kurang menjadi faktor integritas dibandingkan faktor kesamaan darah dan kesamaan tempat tinggal, termasuk nasionalisme.
Seriring berjalannya waktu, ternyata penjajah masih belum selesai, banyak lahir penjajahan-penjajahan baru (neo-kolonialisme), yang mencoba melakukan penjajahan melalui liberalisasi social, politik, ekonomi dan kultural. Untuk politik, masih hangat dibenak pikiran kita perubahan sebagaian pemerintahan di negara-negara Arab, perubahan system pemerintahan dari otoriter menjadi demokrasi barat. Begitu pun Indonesia, secara tak langsung kita menggunakan sistem pemilihan langsung yang memakan banyak biaya dan waktu. Padahal secara kultural, bangsa kita masih jauh dari kata “siap” untuk berdemokrasi secara langsung, hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertikaian hasil pemilukada, bahkan terakhir kantor Mahkamah Konstitusi dirusak sebagain oknum yang kalah dalam sengketa pilkada.

Kamis, 17 Oktober 2013

Kuliah Umum Politik Global Islam




Oleh Prof. Din Syamsuddin
Kamis, 10 September 2013
Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

            Secara garis besar umat Islam merupakan salah satu faktor penting dalam perpolitikan global. Hal ini dapat dilihat dari jumlah keseluruhan umat Islam yang mencapai 1,6 miliar atau sekitar 23% jumlah penduduk dunia. Maka, umat Islam merupakan kelompok aspiraril. Dewasa ini, Islam kurang menjadi subjek dari perpolitikan global namun lebih kepada objek. Apapun predikatnya, harus kita yakini bahwa dunia mungkin ada tanpa Islam.
            Melihat lebih dalam, dunia Islam sebenarnya homogen dan relative lebih baik dari Kristen yang memiliki banyak sekte dan golongan. Secara teologis, Islam hanya terbagi atas Syiah dan Sunni maka secara umum kita kelommpok aspiraril yang homogen. Namun dalam perkembangannya, Islam menjadi heterogen disebabkan perbedaan sistem politik yang digunakan masing-masing negara. Kita dapat melihatnya dalam masalah Mesir, adanya national interest  yang berbeda menjadikan negara-negara Islam memiliki kebijakan berbeda, berbeda bila menyangkut masalah Palestina maka negara-negara Islam akan bergabung. Maka, saya berharap dalam anda mengkaji perpolitikan Islam Global, kita perlu mengkaji dan meletakannya dalam prespektif heterogen dan homogen.