sumber foto : facebook.com
Man Jadda Wajada,
peribahasa Arab yang artinya “siapa yang bersungguh-sunguh dia akan berhasil”
melekat erat pada mahasiswi ini.
Setelah mencoba selama tujuh kali, akhirnya percobaan
yang ketujuh menjadi langkah pertama baginya di event internasional yaitu
Asia-Pacific Model United Nations Conference (AMUNC) 2013 di New Zealand.
Begitulah kiranya peribahasa yang menggambarkan tekad
kuat mahasiswi ini. Sosok tersebut bernama Naeli Fitria, kelahiran Cirebon, 24
Maret 1993, tengah duduk di semester lima
Hubungan Internasional UIN Jakarta. Dahulu, menyelesaikan pendidikan Sekolah
Dasar (SD) di Tonjong, Brebes, lalu melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP)
dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bogor, Jawa Barat. Ketertarikannya
kepada politik Islam dan kajian Timur Tengah menjadi alasan kuat ia memilih
melanjutkan studi Hubungan Internasional di UIN Jakarta.
Sehubungan dengan AMUNC, anak pertama dari pasangan Akhmad
Yani dan Husnul Khotimah ini, merupakan
salah satu delegasi Indonesia dari 500 delegasi se-Indonesia. Cita-citanya dari
kecil untuk menjadi diplomat dan ketertarikannya kepada isu-isu internasional
menjadi alasan kuat mengapa ia sangat tertarik mengikuti ajang Model United
Nations (MUN). Tak heran, untuk ajang AMUNC 2013 ia tetap mencoba dan keep
trying semaksimal mungkin, terbukti tujuh kali sudah ia apply beasiswa
keluar negeri tersebut. Sebelum mengirim, otomatis naeli membuat
outline, meng-organize ide yang ada di dalam otaknya menjadi sebuah tulisan yang dapat
meyakinkan juri bahwa dirinya
adalah kandidat yang berhak mendapatkan beasiswa itu. Semua ide tersebut terangkum dalam esai 500 kata
yang menjadi persyaratan peserta. Kemampuan bahasa Inggrisnya yang pas-pasan
membuatnya harus berlatih dan
berkerja keras.
Bagi mahasiswi yang memiliki motto hidup bergerak
atau tergantikan ini, Allah dan
orang tua adalah aktor penting dalam keberhasilannya mengikuti event ini.
Wejangan orang tua, dan keadaan orang lain yang tidak seberuntung dirinya
membuatnya manyadari betapa beruntungnya dirinya. Maka, ia tak kenal lelah
tetap berusaha. Satu kata motivasi baginya, YOLO
(You Only Live Once) hidup hanya sekali, maka
usahakan semaksimal mungkin, agar kelak siap mempertangungjawabkannya di
hadapan-Nya.
Sepertin diketahui, pengagum Vanessa
Carlton ini, terancam gagal mengikuti event ini, karena tidak
mendapatkan sponsor sama sekali. Dirinya telah menyebarkan 24 proposal untuk
instansi dan perusahaan tapi tetap hasilnya nihil. Padahal dirinya menyebarkan
di bawah terik matahari dan sendirian. Namun, tekadnya yang kuat membuatnya
tidak mudah menyerah. Bahkan, seminggu sebelum berangkat ia sempat putus asa
karena belum juga dapat sponsor. Naeli tidak mau menyusahkan kedua orang
tuanya, karena dia paham untuk ke New Zealand itu biayanya mahal. Akan tetapi, Allah
berkehendak lain, setelah berkonsultasi dengan keluarga besarnya dan pihak
jurusan, akhirnya Naeli menemukan solusi dan berhasil berangkat dengan rezeki
dari kedua orang tuanya.
Setelah mengikuti event tersebut, menurut mahasiswi
yang mengisi kegiatannya dengan mengajar les bahasa inggris
dan bimbingan belajar ini, semua mahasiswa HI UIN Jakarta pasti bisa
memiliki kesempatan yang sama dan mengikuti apa pun di luar negeri. Tergantung
kemauan dan keseriusan mahasiswanya. Baginya, semua kurikulum di HI dan acara
di UIN menunjang mahasiswanya untuk berkreasi lebih. Maka, ia menganjurkan
teman-teman mahasiswa untuk mencari passionnya yang sesuai dengan minat
dan bakat. Di atas semua itu, kedekatan dan ketaatan ibadah menjadi kunci
penting bagi Naeli untuk mendorong keberhasilannya.
Menurutnya, pihak kampus juga dapat menunjang
mahasiswanya mengikuti event MUN lainnya. Melalui kegiatan di Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI), serta
Club serupa seperti International Studies Club (ISC) maka bukannya tidak
mungkin HI UIN Jakarta dapat berjaya di event internasional. Selain itu,
dirinya berharap pihak kampus menyediakan ruangan simulasi sidang, link
untuk sponsorship dan informasi beasiswa terpadu. Fasilitas kita sudah punya,
kegiatan ada, maka tinggal bagaimana memaksimalkan kemampuan diri.
Dalam memaksimal kemampuan diri, Naeli menganjurkan
mahasiswa HI UIN Jakarta mencari passion dan fokusnya. Seperti diketahui, Naeli
sendiri senang menulis, membaca, dan berdiskusi. Hingga detik ini, ia telah menerbitkan 3 buku : pertama, Novel “Green” sewaktu SMK menjadi
juara berbakat ke-2 Lomba Penulisan Novel Cerita Remaja Islami Tingkat Nasional
di Kementerian Agama Republik Indonesia (2010); kedua, Buku “Gagasan Kebangkitan” 20 Naskah
Terbaik Lomba Esai Tingkat Nasional (2012);
dan terakhir, Buku “ Antologi
Simfoni Balqis” 100 Nominator Terbaik Lomba Cerita Mini Internasional yang
diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman (2013).
Diakhir wawancara, Naeli berpesan kepada segenap
mahasiswa baru (maba) untuk memastikan bahwa pastikan
HI pilihan yang tepat, dan jangan sampai salah jurusan ya. Setelah
menjadi mahasiswa nantinya, ia
manganjurkan untuk maksimalkan kemampuan akademis dan
non-akademis. Jangan terpaku pada akademis
tanpa adanya sebuah karya. Selain itu, maba harus bisa menemukan passionnya di
HI, kuasai bidang itu dan dalami. Jadilah mahasiswa yang cerdik, mengejar
banyak kesemoatan, dan ingat satu kata “YOLO
(You Only Live Once) !”






0 komentar:
Posting Komentar