Jumat, 10 Januari 2014

Filled Under:

Semuanya Tergantung Niat

18.37


sumber foto : facebook.com


Man  Jadda Wajada, peribahasa Arab yang artinya “siapa yang bersungguh-sunguh dia akan berhasil” melekat erat pada mahasiswi ini. Setelah mencoba selama tujuh kali, akhirnya percobaan yang ketujuh menjadi langkah pertama baginya di event internasional yaitu Asia-Pacific Model United Nations Conference (AMUNC) 2013 di New Zealand.
Begitulah kiranya peribahasa yang menggambarkan tekad kuat mahasiswi ini. Sosok tersebut bernama Naeli Fitria, kelahiran Cirebon, 24 Maret 1993, tengah duduk di semester lima Hubungan Internasional UIN Jakarta. Dahulu, menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Tonjong, Brebes, lalu melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bogor, Jawa Barat. Ketertarikannya kepada politik Islam dan kajian Timur Tengah menjadi alasan kuat ia memilih melanjutkan studi Hubungan Internasional di UIN Jakarta.

Sehubungan dengan AMUNC, anak pertama dari pasangan Akhmad Yani dan Husnul Khotimah ini, merupakan salah satu delegasi Indonesia dari 500 delegasi se-Indonesia. Cita-citanya dari kecil untuk menjadi diplomat dan ketertarikannya kepada isu-isu internasional menjadi alasan kuat mengapa ia sangat tertarik mengikuti ajang Model United Nations (MUN). Tak heran, untuk ajang AMUNC 2013 ia tetap mencoba dan keep trying semaksimal mungkin, terbukti tujuh kali sudah ia apply beasiswa keluar negeri tersebut. Sebelum mengirim, otomatis naeli membuat outline, meng-organize ide yang ada di dalam otaknya menjadi sebuah tulisan yang dapat meyakinkan juri bahwa dirinya adalah kandidat yang berhak mendapatkan beasiswa itu. Semua ide tersebut terangkum dalam esai 500 kata yang menjadi persyaratan peserta. Kemampuan bahasa Inggrisnya yang pas-pasan  membuatnya harus berlatih dan berkerja keras.
Bagi mahasiswi yang memiliki motto hidup bergerak atau tergantikan ini, Allah dan orang tua adalah aktor penting dalam keberhasilannya mengikuti event ini. Wejangan orang tua, dan keadaan orang lain yang tidak seberuntung dirinya membuatnya manyadari betapa beruntungnya dirinya. Maka, ia tak kenal lelah tetap berusaha. Satu kata motivasi baginya, YOLO (You Only Live Once) hidup hanya sekali, maka usahakan semaksimal mungkin, agar kelak siap mempertangungjawabkannya di hadapan-Nya.
Sepertin diketahui, pengagum Vanessa Carlton ini, terancam gagal mengikuti event ini, karena tidak mendapatkan sponsor sama sekali. Dirinya telah menyebarkan 24 proposal untuk instansi dan perusahaan tapi tetap hasilnya nihil. Padahal dirinya menyebarkan di bawah terik matahari dan sendirian. Namun, tekadnya yang kuat membuatnya tidak mudah menyerah. Bahkan, seminggu sebelum berangkat ia sempat putus asa karena belum juga dapat sponsor. Naeli tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya, karena dia paham untuk ke New Zealand itu biayanya mahal. Akan tetapi, Allah berkehendak lain, setelah berkonsultasi dengan keluarga besarnya dan pihak jurusan, akhirnya Naeli menemukan solusi dan berhasil berangkat dengan rezeki dari kedua orang tuanya.  
Setelah mengikuti event tersebut, menurut mahasiswi yang mengisi kegiatannya dengan mengajar les bahasa inggris dan bimbingan belajar ini, semua mahasiswa HI UIN Jakarta pasti bisa memiliki kesempatan yang sama dan mengikuti apa pun di luar negeri. Tergantung kemauan dan keseriusan mahasiswanya. Baginya, semua kurikulum di HI dan acara di UIN menunjang mahasiswanya untuk berkreasi lebih. Maka, ia menganjurkan teman-teman mahasiswa untuk mencari passionnya yang sesuai dengan minat dan bakat. Di atas semua itu, kedekatan dan ketaatan ibadah menjadi kunci penting bagi Naeli untuk mendorong keberhasilannya.
Menurutnya, pihak kampus juga dapat menunjang mahasiswanya mengikuti event MUN lainnya. Melalui kegiatan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI), serta Club serupa seperti International Studies Club (ISC) maka bukannya tidak mungkin HI UIN Jakarta dapat berjaya di event internasional. Selain itu, dirinya berharap pihak kampus menyediakan ruangan simulasi sidang, link untuk sponsorship dan informasi beasiswa terpadu. Fasilitas kita sudah punya, kegiatan ada, maka tinggal bagaimana memaksimalkan kemampuan diri.
Dalam memaksimal kemampuan diri, Naeli menganjurkan mahasiswa HI UIN Jakarta mencari passion dan fokusnya. Seperti diketahui, Naeli sendiri senang menulis, membaca, dan berdiskusi. Hingga detik ini, ia telah menerbitkan 3 buku : pertama, Novel “Green” sewaktu SMK menjadi juara berbakat ke-2 Lomba Penulisan Novel Cerita Remaja Islami Tingkat Nasional di Kementerian Agama Republik Indonesia (2010); kedua, Buku “Gagasan Kebangkitan” 20 Naskah Terbaik Lomba Esai Tingkat Nasional (2012); dan terakhir, Buku “ Antologi Simfoni Balqis” 100 Nominator Terbaik Lomba Cerita Mini Internasional yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman (2013).
Diakhir wawancara, Naeli berpesan kepada segenap mahasiswa baru (maba) untuk memastikan bahwa pastikan HI pilihan yang tepat, dan  jangan sampai salah jurusan ya. Setelah menjadi mahasiswa nantinya, ia manganjurkan untuk maksimalkan kemampuan akademis dan non-akademis. Jangan terpaku pada akademis tanpa adanya sebuah karya. Selain itu, maba harus bisa menemukan passionnya di HI, kuasai bidang itu dan dalami. Jadilah mahasiswa yang cerdik, mengejar banyak kesemoatan,  dan ingat satu kata “YOLO (You Only Live Once) !






0 komentar:

Posting Komentar