Selasa, 26 November 2013

Filled Under: ,

Islam dan Perkembangan Zaman

02.33


KULIAH UMUM OLEH DIN SYAMSUDDIN 
 


Penjajahan berpengaruh kepada negara yang terjajah baik dari segi sosial maupun budaya. Seperti, negara persemakmuran Inggris seperti Malaysia yang mayoritas penduduknya pandai berbahasa Inggris, lalu masih digunakan bahasa Prancis di sebagian negara Afrika bekas jajahan Prancis. Hal ini menunjukan kuatnya pengaruh penjajahan, bahkan ada dampak sistemik yaitu dampak bawaan penjajahan ke depan yang muncul setelah kemerdekaan negara tersebut.
Sebelum mencapai kemerdekaan, tentunya ada perjuangan rakyat melawan penjajah. Dari sini lahirlah nasionalisme sebagai konsekuensi perjuangan, akan tetapi nasionalisme dipandang negative sebagian golongan karena mengandung perpecahan. Islam sebagai keyakinan kurang menjadi faktor integritas dibandingkan faktor kesamaan darah dan kesamaan tempat tinggal, termasuk nasionalisme.
Seriring berjalannya waktu, ternyata penjajah masih belum selesai, banyak lahir penjajahan-penjajahan baru (neo-kolonialisme), yang mencoba melakukan penjajahan melalui liberalisasi social, politik, ekonomi dan kultural. Untuk politik, masih hangat dibenak pikiran kita perubahan sebagaian pemerintahan di negara-negara Arab, perubahan system pemerintahan dari otoriter menjadi demokrasi barat. Begitu pun Indonesia, secara tak langsung kita menggunakan sistem pemilihan langsung yang memakan banyak biaya dan waktu. Padahal secara kultural, bangsa kita masih jauh dari kata “siap” untuk berdemokrasi secara langsung, hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertikaian hasil pemilukada, bahkan terakhir kantor Mahkamah Konstitusi dirusak sebagain oknum yang kalah dalam sengketa pilkada.

Tidak berhenti di situ saja, arus neo-kolonialisme juga terjadi pada sector ekonomi. Adanya krisis energy di dunia Barat, menyebabkan mereka mulai melirik kepada negara-negara Timur yang kebanyakan negara Islam sebagai lumbung energy dunia. Berbagai cara dilaksanakan agar terjadi liberalisasi ekonomi di negara bersangkutan, melalui MOU, perjanjian yang diratifikasi, organisasi perdagangan dunia, dan lain-lain. Semuanya membawa misi liberalisasi ekonomi dengan free trade dan free labour, di negara-negara lumbung energi.
Liberalisasi tidak hanya dilakukan oleh negara barat. Dewasa ini, masyarakat sedunia seakan tersihir dengan hadirnya sebuah genre musik baru asal negeri gingseng, yang lebih dikenal K-Pop. Lagu pop barat yang dibawakan oleh band-band Korea berdampak kuat terhadap berkurangnya kebanggan budaya negaranya. Pola ini menunjukan adanya keterikatan hubungan budaya, dan liberalisasi budaya. Sebenarnya, lahirnya K-Popo tidak bisa dilepaskan campur tangan pemerintah, begitulah apa yang dikatakan budayawan Korea. Semuanya telah didesign dan dibiayai untuk memperluas culture Korea ke seluruh dunia. Tujuannya, agar dunia menggenal budaya Korea, lalu kemudian produk-produk Korea secara otomatis juga ikut mendunia, contohnya Samsung yang semakin meninggalkan Blackberry, lalu produk mobil Kia dan Hyundai yang tak lama lagi akan mengalahkan produk mobil Jepang, dan lain-lain. Inilah perkembangan dunia sekarang, lalu bagaimana dunia Islam?
ISLAM DAN IDEOLOGI
            Dewasa ini lahir banyak ideologi, sosialisme, kapitalisme, liberalisme, dan lain-lain. Islam sebagai agama yang sempurna dan syumuli selalu di bandingkan dengan ideologi di atas. Ada yang menolak keras semua ideology tersebut, namun tak jarang yang menerimanya dan menggangap ideology tersebut kompatibel bisa di tambahkan Teo di depannya, maka menjadi Teososialisme, Teokapitalisme, dan Teoliberalisme. Kelompok kedua berangkat dari dasar bahwa ideologi versi barat tersebut lahir dari humansentrisme, yang mengganggap manusia sebagai sentral kehidupan. Dalam Islam, manusia tidak terlepas dari salah dan kekurangan maka manusia tidak bisa menjadi sentral, oleh karena itu semua ideologi harus theosentrisme. Adapun kelompok pertama, beranggapan Islam sudah sempurna dan menyeluruh, maka tinggal pengaplikasiannya dalam kehidupan.
            Dalam perdebatan ini, saya mengatakan Islam kompatibel dengan “isme-isme” tadi (ideologi) asalkan sesuai dengan dasar-dasar Islam. Islam itu sebagai jalan tengah, menjembatani dua ideologi contohnya kapitalisme dan sosialisme, dalam Islam semuanya mempunyai hak yang sama untuk mencari kekayaan dan dilain sisi ada hak orang lain dalam kekayaan tersebut yang disalurkan melalui zakat. Ada sebuah peribahasa khoirul umuri ausatuhaa yang artinya sebaik-baiknya urusan adalah pertengahannya, lalu ada ayat Al-Quran yang berbunyi ihdinaa shirootu-l-mustaqiim artinya tunjukkannya kami jalan yang lurus. Dari ayat tersebut, kata lurus bermakna tidak ke kiri dan tidak ke kanan, maka ia merupakan jalan tengah. Islam ideology is the middle path.
            Apabila ketika Islam bersinggungan dengan ideology di atas, maka Islam harus mampu mengeskplore yang baik tanpa kehilangan identitas. Untuk itu menjawab semua tantangan ideology di atas, Islam harus mampu memberikan jawaban aksi yang dapat diterima bukan jawaban normatif.   

0 komentar:

Posting Komentar