KULIAH UMUM OLEH DIN SYAMSUDDIN
Penjajahan berpengaruh kepada negara yang terjajah baik dari segi
sosial maupun budaya. Seperti, negara persemakmuran Inggris seperti Malaysia
yang mayoritas penduduknya pandai berbahasa Inggris, lalu masih digunakan
bahasa Prancis di sebagian negara Afrika bekas jajahan Prancis. Hal ini
menunjukan kuatnya pengaruh penjajahan, bahkan ada dampak sistemik yaitu dampak
bawaan penjajahan ke depan yang muncul setelah kemerdekaan negara tersebut.
Sebelum mencapai kemerdekaan, tentunya ada perjuangan rakyat
melawan penjajah. Dari sini lahirlah nasionalisme sebagai konsekuensi
perjuangan, akan tetapi nasionalisme dipandang negative sebagian golongan
karena mengandung perpecahan. Islam sebagai keyakinan kurang menjadi faktor
integritas dibandingkan faktor kesamaan darah dan kesamaan tempat tinggal,
termasuk nasionalisme.
Seriring berjalannya waktu, ternyata penjajah masih belum selesai,
banyak lahir penjajahan-penjajahan baru (neo-kolonialisme), yang mencoba
melakukan penjajahan melalui liberalisasi social, politik, ekonomi dan
kultural. Untuk politik, masih hangat dibenak pikiran kita perubahan sebagaian
pemerintahan di negara-negara Arab, perubahan system pemerintahan dari otoriter
menjadi demokrasi barat. Begitu pun Indonesia, secara tak langsung kita
menggunakan sistem pemilihan langsung yang memakan banyak biaya dan waktu.
Padahal secara kultural, bangsa kita masih jauh dari kata “siap” untuk
berdemokrasi secara langsung, hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertikaian
hasil pemilukada, bahkan terakhir kantor Mahkamah Konstitusi dirusak sebagain
oknum yang kalah dalam sengketa pilkada.
Tidak berhenti di situ saja, arus neo-kolonialisme juga terjadi
pada sector ekonomi. Adanya krisis energy di dunia Barat, menyebabkan mereka
mulai melirik kepada negara-negara Timur yang kebanyakan negara Islam sebagai
lumbung energy dunia. Berbagai cara dilaksanakan agar terjadi liberalisasi
ekonomi di negara bersangkutan, melalui MOU, perjanjian yang diratifikasi,
organisasi perdagangan dunia, dan lain-lain. Semuanya membawa misi liberalisasi
ekonomi dengan free trade dan free labour, di negara-negara
lumbung energi.
Liberalisasi tidak hanya dilakukan oleh negara barat. Dewasa ini, masyarakat
sedunia seakan tersihir dengan hadirnya sebuah genre musik baru asal negeri
gingseng, yang lebih dikenal K-Pop. Lagu pop barat yang dibawakan oleh
band-band Korea berdampak kuat terhadap berkurangnya kebanggan budaya
negaranya. Pola ini menunjukan adanya keterikatan hubungan budaya, dan
liberalisasi budaya. Sebenarnya, lahirnya K-Popo tidak bisa dilepaskan campur
tangan pemerintah, begitulah apa yang dikatakan budayawan Korea. Semuanya telah
didesign dan dibiayai untuk memperluas culture Korea ke seluruh dunia.
Tujuannya, agar dunia menggenal budaya Korea, lalu kemudian produk-produk Korea
secara otomatis juga ikut mendunia, contohnya Samsung yang semakin meninggalkan
Blackberry, lalu produk mobil Kia dan Hyundai yang tak lama lagi akan
mengalahkan produk mobil Jepang, dan lain-lain. Inilah perkembangan dunia
sekarang, lalu bagaimana dunia Islam?
ISLAM DAN IDEOLOGI
Dewasa ini lahir banyak ideologi, sosialisme, kapitalisme,
liberalisme, dan lain-lain. Islam sebagai agama yang sempurna dan syumuli selalu
di bandingkan dengan ideologi di atas. Ada yang menolak keras semua ideology
tersebut, namun tak jarang yang menerimanya dan menggangap ideology tersebut
kompatibel bisa di tambahkan Teo di depannya, maka menjadi Teososialisme,
Teokapitalisme, dan Teoliberalisme. Kelompok kedua berangkat dari dasar bahwa
ideologi versi barat tersebut lahir dari humansentrisme, yang mengganggap
manusia sebagai sentral kehidupan. Dalam Islam, manusia tidak terlepas dari
salah dan kekurangan maka manusia tidak bisa menjadi sentral, oleh karena itu
semua ideologi harus theosentrisme. Adapun kelompok pertama, beranggapan Islam
sudah sempurna dan menyeluruh, maka tinggal pengaplikasiannya dalam kehidupan.
Dalam
perdebatan ini, saya mengatakan Islam kompatibel dengan “isme-isme” tadi
(ideologi) asalkan sesuai dengan dasar-dasar Islam. Islam itu sebagai jalan
tengah, menjembatani dua ideologi contohnya kapitalisme dan sosialisme, dalam
Islam semuanya mempunyai hak yang sama untuk mencari kekayaan dan dilain sisi
ada hak orang lain dalam kekayaan tersebut yang disalurkan melalui zakat. Ada
sebuah peribahasa khoirul umuri ausatuhaa yang artinya sebaik-baiknya
urusan adalah pertengahannya, lalu ada ayat Al-Quran yang berbunyi ihdinaa
shirootu-l-mustaqiim artinya tunjukkannya kami jalan yang lurus. Dari ayat
tersebut, kata lurus bermakna tidak ke kiri dan tidak ke kanan, maka ia
merupakan jalan tengah. Islam ideology is the middle path.
Apabila
ketika Islam bersinggungan dengan ideology di atas, maka Islam harus mampu
mengeskplore yang baik tanpa kehilangan identitas. Untuk itu menjawab semua
tantangan ideology di atas, Islam harus mampu memberikan jawaban aksi yang
dapat diterima bukan jawaban normatif.







0 komentar:
Posting Komentar