Kamis, 17 Oktober 2013

Filled Under:

Kuliah Umum Politik Global Islam

15.52




Oleh Prof. Din Syamsuddin
Kamis, 10 September 2013
Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

            Secara garis besar umat Islam merupakan salah satu faktor penting dalam perpolitikan global. Hal ini dapat dilihat dari jumlah keseluruhan umat Islam yang mencapai 1,6 miliar atau sekitar 23% jumlah penduduk dunia. Maka, umat Islam merupakan kelompok aspiraril. Dewasa ini, Islam kurang menjadi subjek dari perpolitikan global namun lebih kepada objek. Apapun predikatnya, harus kita yakini bahwa dunia mungkin ada tanpa Islam.
            Melihat lebih dalam, dunia Islam sebenarnya homogen dan relative lebih baik dari Kristen yang memiliki banyak sekte dan golongan. Secara teologis, Islam hanya terbagi atas Syiah dan Sunni maka secara umum kita kelommpok aspiraril yang homogen. Namun dalam perkembangannya, Islam menjadi heterogen disebabkan perbedaan sistem politik yang digunakan masing-masing negara. Kita dapat melihatnya dalam masalah Mesir, adanya national interest  yang berbeda menjadikan negara-negara Islam memiliki kebijakan berbeda, berbeda bila menyangkut masalah Palestina maka negara-negara Islam akan bergabung. Maka, saya berharap dalam anda mengkaji perpolitikan Islam Global, kita perlu mengkaji dan meletakannya dalam prespektif heterogen dan homogen.

            Dewasa ini, hubungan antara negara Islam dengan negara lain belum equal, ada yang lebih superior dan ada yang lebih inferior. Hubungan antara kedua pihak superior dan inferior akan menyebabkan depency antara keduanya. Pihak superior di sini adalah negara maju yang memiliki kekuatan ekonomi yang mapan (negara non Islam), sedangkan pihak inferior yaitu negara berkembang yang baru mendapatkan kemerdekaannya dan belum terlalu mapan dalam segi ekonomi (kebanyakan negara Islam). Ketergantungan keduanya lebih didominasi superior yang lebih menguasai inferior dalam segala hal termasuk politik, budaya, termasuk militer.
            Dominasi ini menghasilkan apa yang disebut neo-kolonialisme dan neo-imperalisme. Kemerdekaan yang didapatkan negara inferior hanya merupakan kemerdekaan nominal, sebuah kemerdekaan yang belum menyentuh aspek esensi dan subtansi dari kemerdekaan sebuah negara. Lebih lanjut mari melihat sejarah yang terjadi.
            Watak sejarah selalu continue dan change, sepertin lingkaran maka sejarah akan berlanjut hanya waktu dan aktorlah yang berubah. Hubungan keduanya dapat dilihat dari dimensi agama.  Sejarah melihat rivalitas perang panjang antara agama Kristen dan Islam dalam perang salib masih menyisakan luka dalam yang belum tuntas. Di tambah lagi, agama samawi yang terakhir turun yakni Islam kurang disukai oleh dua agama samawi  sebelumnya (Kristen dan Yahudi). Kemudian, Islam bisa mengalahkan dua imperium besar Romawi dan Persia.
Imperium Persia dikalahkan oleh Imperium Islam secara cultural dan militer. Pengaruh Islam di Persia (sekarang Iran dan Iraq) sangat kuat, contohnya bahasa yang mereka gunakan tidak jauh berbeda dengan bahasa Arab. Lain halnya dengan Imperium Romawi yang ditaklukan secara militer, penaklukan tersebut sampai ke daerah Spanyol oleh Eropa Timur. Islam di zaman pertengahan sangat superior hal ini membuat kecemburuan agama lain, maka ketika mereka di atas dimulailah penjajahan dan penindasan sebagai pembalasan atas luka dalam yang belum sembuh tersebut.
Titik kebangkitan mereka adalah Renensains, bangkitnya Protestan. Mereka sadar bahwa militer sangat dibutuhkan untuk kuasai negara lain. Semenjak itulah mereka mulai mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara garis besar terdapat tiga kekuatan Barat yaitu ilmu pengetahuan, teknoloki termasuk persenjataan, dan maritim.
Dalam perjalanan selanjutnya, mereka menyadari teknologi saja tidak mampu membuat mereka superior selama dibutuhkan energi dan sumber daya alam yang melimpah. Maka dilakukan ekspansi ke negara inferior untuk menguras SDA tersebut, contohnya invansi Amerika ke Iraq untuk menguasai minyak Iraq yang katanya merupakan minyak terbaik di dunia. Tak terkecuali Indonesia, kedaulatan yang kita peroleh belumlah seutuhnya. Maka, ditarik kesimpulan pola hubungannya adalah hubungan tidak imbang antara superior dan inferior serta neo-kolonialisme yang berlanjut.
Indonesia sebagai 10 besar negara dengan energi terbanyak merupakan sasaran empuk dari neo-kolonialisme dan neo-imperialisme Barat. Maka, dalam pemilu 2014 yang alam datang Amerika Serikat tidak akan berdiam diri mengintervensi negara kita yang belum dapatkan kedaulatan seutuhnya. Secara garis besar kita baru mendapatkan tiga kedulatan : pertama, political souvereignty pada tahun 1945; kedua, cultural souvereignty semenjak 1908 sampai puncaknya ketika sumpah pemuda 1928; ketiga, teritorial souvereignty sejak deklarasi Juanda. Yang ingin saya tekankan adalah ketika kalian mengkaji politik Islam global maka perlu dilakukan pendekatan sosio-historis dan jangan lupa untuk memberikan solusi permasalahan tersebut.  

0 komentar:

Posting Komentar