foto : beta.muslimlife.com
Oleh Prof. Din Syamsuddin
Kamis, 10 September 2013
Auditorium Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Secara garis besar umat Islam
merupakan salah satu faktor penting dalam perpolitikan global. Hal ini dapat
dilihat dari jumlah keseluruhan umat Islam yang mencapai 1,6 miliar atau
sekitar 23% jumlah penduduk dunia. Maka, umat Islam merupakan kelompok
aspiraril. Dewasa ini, Islam kurang menjadi subjek dari perpolitikan global
namun lebih kepada objek. Apapun predikatnya, harus kita yakini bahwa dunia
mungkin ada tanpa Islam.
Melihat lebih dalam, dunia Islam
sebenarnya homogen dan relative lebih baik dari Kristen yang memiliki banyak
sekte dan golongan. Secara teologis, Islam hanya terbagi atas Syiah dan Sunni
maka secara umum kita kelommpok aspiraril yang homogen. Namun dalam
perkembangannya, Islam menjadi heterogen disebabkan perbedaan sistem politik
yang digunakan masing-masing negara. Kita dapat melihatnya dalam masalah Mesir,
adanya national interest yang berbeda menjadikan negara-negara Islam
memiliki kebijakan berbeda, berbeda bila menyangkut masalah Palestina maka
negara-negara Islam akan bergabung. Maka, saya berharap dalam anda mengkaji
perpolitikan Islam Global, kita perlu mengkaji dan meletakannya dalam
prespektif heterogen dan homogen.
Dewasa ini, hubungan antara negara
Islam dengan negara lain belum equal, ada yang lebih superior dan ada yang
lebih inferior. Hubungan antara kedua pihak superior dan inferior akan
menyebabkan depency antara keduanya.
Pihak superior di sini adalah negara maju yang memiliki kekuatan ekonomi yang
mapan (negara non Islam), sedangkan pihak inferior yaitu negara berkembang yang
baru mendapatkan kemerdekaannya dan belum terlalu mapan dalam segi ekonomi
(kebanyakan negara Islam). Ketergantungan keduanya lebih didominasi superior
yang lebih menguasai inferior dalam segala hal termasuk politik, budaya,
termasuk militer.
Dominasi ini menghasilkan apa yang
disebut neo-kolonialisme dan neo-imperalisme. Kemerdekaan yang didapatkan
negara inferior hanya merupakan kemerdekaan nominal, sebuah kemerdekaan yang
belum menyentuh aspek esensi dan subtansi dari kemerdekaan sebuah negara. Lebih
lanjut mari melihat sejarah yang terjadi.
Watak sejarah selalu continue dan
change, sepertin lingkaran maka sejarah akan berlanjut hanya waktu dan aktorlah
yang berubah. Hubungan keduanya dapat dilihat dari dimensi agama. Sejarah melihat rivalitas perang panjang
antara agama Kristen dan Islam dalam perang salib masih menyisakan luka dalam
yang belum tuntas. Di tambah lagi, agama samawi
yang terakhir turun yakni Islam kurang disukai oleh dua agama samawi sebelumnya (Kristen dan Yahudi). Kemudian,
Islam bisa mengalahkan dua imperium besar Romawi dan Persia.
Imperium
Persia dikalahkan oleh Imperium Islam secara cultural dan militer. Pengaruh
Islam di Persia (sekarang Iran dan Iraq) sangat kuat, contohnya bahasa yang
mereka gunakan tidak jauh berbeda dengan bahasa Arab. Lain halnya dengan Imperium
Romawi yang ditaklukan secara militer, penaklukan tersebut sampai ke daerah
Spanyol oleh Eropa Timur. Islam di zaman pertengahan sangat superior hal ini
membuat kecemburuan agama lain, maka ketika mereka di atas dimulailah
penjajahan dan penindasan sebagai pembalasan atas luka dalam yang belum sembuh
tersebut.
Titik
kebangkitan mereka adalah Renensains, bangkitnya Protestan. Mereka sadar bahwa
militer sangat dibutuhkan untuk kuasai negara lain. Semenjak itulah mereka
mulai mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara garis besar terdapat
tiga kekuatan Barat yaitu ilmu pengetahuan, teknoloki termasuk persenjataan,
dan maritim.
Dalam
perjalanan selanjutnya, mereka menyadari teknologi saja tidak mampu membuat
mereka superior selama dibutuhkan energi dan sumber daya alam yang melimpah.
Maka dilakukan ekspansi ke negara inferior untuk menguras SDA tersebut,
contohnya invansi Amerika ke Iraq untuk menguasai minyak Iraq yang katanya
merupakan minyak terbaik di dunia. Tak terkecuali Indonesia, kedaulatan yang
kita peroleh belumlah seutuhnya. Maka, ditarik kesimpulan pola hubungannya
adalah hubungan tidak imbang antara superior dan inferior serta
neo-kolonialisme yang berlanjut.
Indonesia
sebagai 10 besar negara dengan energi terbanyak merupakan sasaran empuk dari
neo-kolonialisme dan neo-imperialisme Barat. Maka, dalam pemilu 2014 yang alam
datang Amerika Serikat tidak akan berdiam diri mengintervensi negara kita yang
belum dapatkan kedaulatan seutuhnya. Secara garis besar kita baru mendapatkan
tiga kedulatan : pertama, political souvereignty pada tahun 1945; kedua, cultural souvereignty semenjak 1908 sampai puncaknya ketika sumpah pemuda
1928; ketiga, teritorial souvereignty sejak deklarasi Juanda.
Yang ingin saya tekankan adalah ketika kalian mengkaji politik Islam global
maka perlu dilakukan pendekatan sosio-historis dan jangan lupa untuk memberikan
solusi permasalahan tersebut.







0 komentar:
Posting Komentar