dok.pribadi
Ciputat
- Genderang semester baru tahun ajaran 2013-2014 mulai terdengar di setiap
penjuru kampus. Aroma-aroma “kehausan ilmu pengetahuan” mulai tercium di mana-
mana. Hampir kala sore di setiap sudut kampus terdapat diskusi keilmuan tak
terkecuali di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta.
Bertempat
taman hijau di belakang gedung Perpustakaan Pasca Sarjana, HMI KOMFISIP kembali
menggalakan diskusi pada Senin (02/09). Bertindak sebagai pembicara Mochammad
Ilham Afdol, mahasiswa tingkat akhir Ilmu Politik. Tema diskusi membahas
mengenai “Pemikirian Nurcholis Majid” tentang Ke-Indonesia-an danKe-Islam-an.
Diskusi
dimulai jam 4 sore, peserta dibagikan selebaran yang berisi review para
cendekiawan mengenai pemikiran “Cak Nur”. Dalam pembahasannya, Ilham mengatakan
berbicara mengenai Cak Nur tidak akan ada habisnya dan mencerahkan. “Pemikiran
Cak Nur merupakan pemikiran brilian, membahsasnya tidak bias selesai dalam sesi
diskusi ini saja karena ia memadukan antara Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an,”katanya.
llham
menjelaskan, dalam buku-bukunya Cak Nur juga mengajak masyarakat Indonesia
menuju era kemodernan. “Dulu banyak anggapan yang mengatakan modernisasi itu
yah westerinisasi, lalu kemudian Cak Nur mengungkapkan bahwa westernisasi itu
rasionalisasi segala sesuatu, contohnya dulu kita ke Bandung berjalan kaki
sekarang udah bisa menggunakan kendaraan seperti mobil dan kereta,”jelasnya.
Reza
Pahlefi, sekalu koordinator diskusi menyebutkan ada beberapa pertimbangan
mengapa tema yang dibahas adalah “Pemikiran Nurcholish Majid”. “Pertama, masih
hangat di benak kita pelaksanaan mengenang sewindu haul Cak Nur yang jatuh pada
29 Agustus 2013; kedua, ia menjadi tonggak awal pemikiran Islam modern yang
menjembatani peradaban barat dengan peradaban timur; ketiga, ia juga
mempopulerkan jargon ISLAM YES PARTAI ISLAM NO yang banyak mendapatkan pro dan
kontra,”ucap mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, semester 5 ini.
Lebih
lanjut, Reza menuturkan tujuan dan harapan diskusi ini. “Tujuannya sih agar
para mahasiswa menjadi cendekiawan muslim yang intelek dan progresif, selain
itu saya berharap teman-teman FISIP bias lebih antusias dan ramai mengikuti
diskusi ini karena acara ini terbuka untuk umum,” tuturnya. Acara ditutup
dengan penyampaian kesimpulan dari setiap peserta, lalu dilanjutkan sholat
maghrib.







0 komentar:
Posting Komentar