Selasa, 24 September 2013

Filled Under:

Galakkan Diskusi, Cetak Cendikiawan Muslim

11.44


 dok.pribadi

Ciputat - Genderang semester baru tahun ajaran 2013-2014 mulai terdengar di setiap penjuru kampus. Aroma-aroma “kehausan ilmu pengetahuan” mulai tercium di mana- mana. Hampir kala sore di setiap sudut kampus terdapat diskusi keilmuan tak terkecuali di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta.
   
Bertempat taman hijau di belakang gedung Perpustakaan Pasca Sarjana, HMI KOMFISIP kembali menggalakan diskusi pada Senin (02/09). Bertindak sebagai pembicara Mochammad Ilham Afdol, mahasiswa tingkat akhir Ilmu Politik. Tema diskusi membahas mengenai “Pemikirian Nurcholis Majid” tentang Ke-Indonesia-an danKe-Islam-an.
   
Diskusi dimulai jam 4 sore, peserta dibagikan selebaran yang berisi review para cendekiawan mengenai pemikiran “Cak Nur”. Dalam pembahasannya, Ilham mengatakan berbicara mengenai Cak Nur tidak akan ada habisnya dan mencerahkan. “Pemikiran Cak Nur merupakan pemikiran brilian, membahsasnya tidak bias selesai dalam sesi diskusi ini saja karena ia memadukan antara Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an,”katanya.
   
llham menjelaskan, dalam buku-bukunya Cak Nur juga mengajak masyarakat Indonesia menuju era kemodernan. “Dulu banyak anggapan yang mengatakan modernisasi itu yah westerinisasi, lalu kemudian Cak Nur mengungkapkan bahwa westernisasi itu rasionalisasi segala sesuatu, contohnya dulu kita ke Bandung berjalan kaki sekarang udah bisa menggunakan kendaraan seperti mobil dan kereta,”jelasnya.
   
Reza Pahlefi, sekalu koordinator diskusi menyebutkan ada beberapa pertimbangan mengapa tema yang dibahas adalah “Pemikiran Nurcholish Majid”. “Pertama, masih hangat di benak kita pelaksanaan mengenang sewindu haul Cak Nur yang jatuh pada 29 Agustus 2013; kedua, ia menjadi tonggak awal pemikiran Islam modern yang menjembatani peradaban barat dengan peradaban timur; ketiga, ia juga mempopulerkan jargon ISLAM YES PARTAI ISLAM NO yang banyak mendapatkan pro dan kontra,”ucap mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, semester 5 ini.

Lebih lanjut, Reza menuturkan tujuan dan harapan diskusi ini. “Tujuannya sih agar para mahasiswa menjadi cendekiawan muslim yang intelek dan progresif, selain itu saya berharap teman-teman FISIP bias lebih antusias dan ramai mengikuti diskusi ini karena acara ini terbuka untuk umum,” tuturnya. Acara ditutup dengan penyampaian kesimpulan dari setiap peserta, lalu dilanjutkan sholat maghrib.     

0 komentar:

Posting Komentar