Rabu, 18 September 2013

Filled Under:

Review Mellian Dialogue

07.08





Mellian Dialogue atau Dialog Melos adalah sebuah dialog yang mengambarkan sebuah percakapan antara utusan Athena dan Melos. Penulisnya adalah Thucydides serajawan yang hidup sekitar 460 SM sampai 399 SM.  Ia hidup di masa Perang Polinesia yang melibatkan dua kekuatan antara Sparta melawan Anthena.
Melos adalah sebuah pulau kecil di laut Aegean. Melos merupakan salah satu koloni dari Sparta, musuh utama Athena. Kekaisaran Athena sebagai salah satu kekaisaran adidaya di masanya dan penguasa lautan kerap menaklukan negara-negara kecil di sekitarnya agar menjadi “budak” yang membayar upeti sebagai jaminan untuk keselamatan negara dan penduduknya, tak terkecuali Pulau Melos.

            Dalam sebuah pelayaran dikirimlah utusan Athena ke Melos membawa ribuan pasukan. Sebelum perperangan diadakan perundingan, wakil-wakil Athena berbicara di depan dihadapan perwakilan Melos. Dialog melos dimulai dengan anjuran wakil Anthena ke orang-orang Melos untuk mempertimbangkan saran-saran dari mereka. Athena memaksa Melos agar tidak ikut berkoalisi dengan Sparta dalam perang dan tidak menyerang Athena. Wakil Athena menilai bahwa standar keadilan bagi mereka bergantung pada kekuatan, yang kuat membuat aturan lalu yang lemah menerima apa yang dikehendaki “si kuat”.
            Utusan dari Melos menolak mentah-mentah saran tersebut, Melos menginginkan perundingan yang adil yang mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi Athena adalah sebuah kebaikan dan keuntungan jika Melos menjadi budak mereka dengan membayar upeti, karena hal tersebut dapat menyelamatkan kota dan penduduk Melos dari kehancuran perperangan. Namun Melos menolak himbauan tersebut dan menginginkan mereka dalam posisi netral, bersahabat dengan Athena Athena, dan tidak menjadi musuh mana pun.
            Sebagai kekaisaran besar, Athena tidak menginginkan ada negara netral, karena hal tersebut dapat menunjukan kelemahan mereka di mata negara-negara jajahan lain yang telah menjadi “budak upeti” mereka. Bagi Athena menaklukan Melos membuat mereka ditakuti, disegani, dan sebagai langkah pengamanan kekaisaran dari negara lain. Hal ini disebabkan, Pulau Melos merupakan ancaman bagi kekaisaran Athena.
Lebih lanjut, Melos menolak untuk tunduk pada kepentingan sepihak Athena yang tidak mendatangkan keuntungan baginya. Melos berasumsi mereka masih memiliki harapan dari para dewa-dewa meskipun secara kualitas dan kuantitas pasukan mereka tak sebanding Athena. Di akhir perundingan Melos tetap bersikukuh pada pendiriannya bahwa mereka tidak mau tunduk kepada Athena, dan menyerahkan begitu saja. Akhirnya perperangan tak dapat terhindarkan, di akhir perperangan Melos menyerah tanpa syarat kepada Athena.
            Dalam kajian hubungan antar bangsa masa kini, Dialog Melos karya Thucydides sering menjadi rujukan dari teori realis klasik. Bila melihat review di atas, penulis menyimpulkan bahwa negara sebagai aktor utama realis mengambil keputusan serta kebijakan politik yang mengesampingkan moral dengan dilandasi tiga dorongan, yakni kepentingan diri (national interest), ketakutan, dan kehormatan. Pelajaran yang paling penting dari dialog di atas adalah pemenang menentukan kebenaran dan yang kalah menerima kebenaran tersebut. Dewasa ini, banyak negara yang merujuk kepada kejadian ini, setiap negara berlomba-lomba memperkuat militernya dan memperkuat “power” nya sehingga disegani di dunia internasional (contohnya Invansi Amerika ke Irak). Selain itu, yang ingin ditekankan Thucydides adalah idealis kemungkinan besar kalah dengan realis Jadi, penulis menilai ide yang ditawarkan Thucydides masih relevan hingga saat ini, meskipun akhirnya timbul teori baru tentang neorealis. Namun, pada dasarnya manusia tak segan-segan “menghalalkan” segala cara agar negara dan rakyatnya aman serta tentram meskipun penyelesaiannya harus melalui jalan perang yang bertolakan dengan fitrah manusia sebagai mahkluk bermoral.
 

0 komentar:

Posting Komentar