Mellian Dialogue atau Dialog Melos adalah sebuah dialog yang mengambarkan
sebuah percakapan antara utusan Athena dan Melos. Penulisnya adalah Thucydides
serajawan yang hidup sekitar 460 SM sampai 399 SM. Ia hidup di masa Perang Polinesia yang
melibatkan dua kekuatan antara Sparta melawan Anthena.
Melos adalah sebuah pulau kecil di laut Aegean. Melos merupakan
salah satu koloni dari Sparta, musuh utama Athena. Kekaisaran Athena sebagai
salah satu kekaisaran adidaya di masanya dan penguasa lautan kerap menaklukan
negara-negara kecil di sekitarnya agar menjadi “budak” yang membayar upeti sebagai
jaminan untuk keselamatan negara dan penduduknya, tak terkecuali Pulau Melos.
Dalam
sebuah pelayaran dikirimlah utusan Athena ke Melos membawa ribuan pasukan.
Sebelum perperangan diadakan perundingan, wakil-wakil Athena berbicara di depan
dihadapan perwakilan Melos. Dialog melos dimulai dengan anjuran wakil Anthena
ke orang-orang Melos untuk mempertimbangkan saran-saran dari mereka. Athena
memaksa Melos agar tidak ikut berkoalisi dengan Sparta dalam perang dan tidak
menyerang Athena. Wakil Athena menilai bahwa standar keadilan bagi mereka bergantung
pada kekuatan, yang kuat membuat aturan lalu yang lemah menerima apa yang
dikehendaki “si kuat”.
Utusan dari
Melos menolak mentah-mentah saran tersebut, Melos menginginkan perundingan yang
adil yang mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi Athena adalah
sebuah kebaikan dan keuntungan jika Melos menjadi budak mereka dengan membayar
upeti, karena hal tersebut dapat menyelamatkan kota dan penduduk Melos dari
kehancuran perperangan. Namun Melos menolak himbauan tersebut dan menginginkan
mereka dalam posisi netral, bersahabat dengan Athena Athena, dan tidak menjadi
musuh mana pun.
Sebagai
kekaisaran besar, Athena tidak menginginkan ada negara netral, karena hal
tersebut dapat menunjukan kelemahan mereka di mata negara-negara jajahan lain
yang telah menjadi “budak upeti” mereka. Bagi Athena menaklukan Melos membuat
mereka ditakuti, disegani, dan sebagai langkah pengamanan kekaisaran dari
negara lain. Hal ini disebabkan, Pulau Melos merupakan ancaman bagi kekaisaran
Athena.
Lebih lanjut, Melos menolak untuk tunduk pada kepentingan
sepihak Athena yang tidak mendatangkan keuntungan baginya. Melos berasumsi
mereka masih memiliki harapan dari para dewa-dewa meskipun secara kualitas dan
kuantitas pasukan mereka tak sebanding Athena. Di akhir perundingan Melos tetap
bersikukuh pada pendiriannya bahwa mereka tidak mau tunduk kepada Athena, dan
menyerahkan begitu saja. Akhirnya perperangan tak dapat terhindarkan, di akhir
perperangan Melos menyerah tanpa syarat kepada Athena.
Dalam
kajian hubungan antar bangsa masa kini, Dialog Melos karya Thucydides sering menjadi
rujukan dari teori realis klasik. Bila melihat review di atas, penulis
menyimpulkan bahwa negara sebagai aktor utama realis mengambil keputusan serta
kebijakan politik yang mengesampingkan moral dengan dilandasi tiga dorongan,
yakni kepentingan diri (national interest),
ketakutan, dan kehormatan. Pelajaran yang paling penting dari dialog di atas
adalah pemenang menentukan kebenaran dan yang kalah menerima kebenaran
tersebut. Dewasa ini, banyak negara yang merujuk kepada kejadian ini, setiap
negara berlomba-lomba memperkuat militernya dan memperkuat “power” nya sehingga
disegani di dunia internasional (contohnya Invansi Amerika ke Irak). Selain
itu, yang ingin ditekankan Thucydides adalah idealis kemungkinan besar kalah
dengan realis Jadi, penulis menilai ide yang ditawarkan Thucydides masih
relevan hingga saat ini, meskipun akhirnya timbul teori baru tentang neorealis.
Namun, pada dasarnya manusia tak segan-segan “menghalalkan” segala cara agar
negara dan rakyatnya aman serta tentram meskipun penyelesaiannya harus melalui
jalan perang yang bertolakan dengan fitrah manusia sebagai mahkluk bermoral.







0 komentar:
Posting Komentar